Tan Malaka : Naar de Republiek, Menuju Republik Indonesia

"Cetak biru" konseptual sebuah negara besar menurut Tan Malaka

1/1/20263 min read

Review Buku : Tan Malaka, Menuju Republik Indonesia

Informasi Dasar Buku

Judul : Naar de Republiek Indonesia, Menuju Republik Indonesia

Penulis : Tan Malaka

Tahun Terbit : 2026

Jumlah Halaman : 70 halaman

Genre/Topik : Ideologi, perjuangan kemerdekaan

Penerbit : Narasi

Siapakah Tan Malaka?

Seorang pahlawan yang sempat dilupakan oleh bangsanya sendiri. Arsitek ideologis kemerdekaan Indonesia yang paling radikal sekaligus terpinggirkan. Jika Soekarno unggul sebagai mobilisator massa dan simbol nasional dan Hatta memiliki kekuatan dalam diplomasi dan institusionalisasi negara. Tan Malaka merupakan pemikir yang revolusioner yang merumuskan kemerdekaan bukan hanya sebagai pengalihan kekuasaan dari Belanda ke elite pribumi.

Namun, karena terlalu radikal untuk elite nasionalis moderat dan terlalu independen untuk partai komunis internasional, serta terlalu keras kepala untuk politik kompromi pasca 1945. Akibatnya Tan Malaka berada dalam posisi paradoksal, sangat visioner tetapi secara politik terisolasi. Ia menghabiskan 20 tahun hidupnya dalam pelarian, “dibuang” ke berbagai negara, dipenjara secara berpindah-pindah dan berakhir eksekusi di tanah air.

Buku ini ditulis pada tahun 1925, dalam konteks perjuangan meraih kemerdekaan. Namun, ada beberapa aspek yang menurut saya masih relevan hingga saat ini, yaitu : bagaimana cita-cita Tan Malaka untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

Pembuka

Di Indonesia, kalian dapat berseru kepada seluruh rakyat, “Kalian tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai yang membelenggu kalian”.

Tan Malaka melalui tulisannya dalam buku ini sebenarnya Tan Malaka ingin mengajak intelektual Indonesia yang saat itu berada di Belanda untuk ikut dalam gerakan revolusioner yang sedang digagas. Tan Malaka menyampaikan pemikirannya tentang bagaimana Indonesia seharusnya saat merdeka nanti.

Ringkasan Isi

Jauh sebelum ada titik terang kemerdekaan Indonesia. Ketika para aktivis pejuang kemedekaan berpikir keras bagaimana meraih kemerdekaan. 100 tahun lalu, Tan Malaka sudah memikirkan konseptual gagasan Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Ditulis di tanah pengasingan di Tokyo pada April 1925, “Naar de Republiek Indonesia” berisi “cetak biru” sebuah negara besar lengkap dengan cita-cita ideal bagaimana sebuah negara besar di jalankan untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Tan Malaka bahkan dalam satu bab di buku ini bahkan memerinci setiap bagian (ekonomi, politik, sosial, studi & pendidikan, militer, polisi, dan rencana aksi), hal-hal apa saja yang perlu dilakukan kelak saat Indonesia telah merdeka. Gagasan yang baru kemudian terwujud secara normatif hampir 60 tahun kemudian.

Buku ini juga menyiratkan bagaimana Tan Malaka berpegang teguh bahwa revolusi harus melibatkan seluruh rakyat. Kemerdekaan harus 100% tanpa kompromi sedikitpun dengan kolonialis. Menurutnya setiap kompromi dengan kolonialisme merupakan sebuah penghinaan yang nyata untuk kemerdekaan.

Tan Malaka menyampaikan bagaimana beratnya tugas mendidik rakyat yang selama berabad-abad tidak mengalami apa pun selain penghinaan dan pukulan tongkat, baik dari kelas penguasa pribumi sendiri maupun dari kelas penguasa asing. Rakyat telah dipaksa untuk merendahkan diri dan mengemis seolah-olah perlakuan tsb merupakan hal yang wajar, sehingga membuat rakyat saat itu memiliki mentalitas budak.

Terakhir Tan Malaka menyampaikan mimpi dan tujuan akhir perjuangannya untuk mewujudkan : “Kemerdekaan, Kebudayaan dan Kebahagiaan Bagi Semua Rakyat di Dunia”. Sebuah tujuan yang sungguh mulia.

Hal Menarik dari Buku

Isinya yang padat, ringkas dan jelas.

Buku ini cukup tipis, hanya 70 halaman. Sehingga bisa dibaca sambil minum the atau kopi dan mungkin kurang dari 1 jam akan selesai dibaca. Melalui paparan singkat Tan Malaka dalam buku ini, kita (para pembaca) akan secara jelas memahami bagaimana Tan Malaka berpikir tentang konsep meraih kemerdekaan dan bagaimana sebuah negara dijalankan.

Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini

Buku ini cocok untuk :

  • Pembaca yang mencari buku yang habis sekali baca sambil minum kopi atau teh karena buku ini cukup tipis, hanya 70 halaman.

  • Pembaca yang mencari informasi singkat tentang bagaimana cita-cita Tan Malaka tentang Indonesia.

Kurang Cocok :

  • Pembaca yang alergi dengan paham komunisme, karena beberapa bagian dalam buku ini memang menulis bagaimana Tan Malaka mengajak pembaca bergabung dengan PKI. Kondisi yang memang relevan pada saat itu.

Refleksi Pribadi :

Saya cukup kagum dengan tulisan Tan Malaka dalam buku ini. Sebelumnya saya pernah membaca buku Tan Malaka lainnya, Aksi Massa, dan butuh energi yang sedikit lebih besar untuk menyelesaikannya walaupun bukunya juga tidak bisa dibilang tebal. Tapi menurut saya, terlepas dari buku ini yang memang cukup tipis (hanya 70 halaman) gagasan Tan Malaka dalam buku ini memang disampaikan secara lugas dan jelas. Isinya juga masih cukup relevan dengan cita-cita Indonesia sampai saat ini. Namun, bahkan setelah 100 tahun buku ini terbit cita-cita itu belum juga terwujud. Akankah cita-cita itu hanya akan menjadi sebuah mimpi belaka?

Rating :

8.5/10