Review Buku : Revolusi Iran
Ketika korupsi merajalela dan kritik publik diabaikan atau bahkan dibungkam, kemarahan publik sering kali tumbuh secara perlahan sebelum akhirnya meledak pada satu titik tertentu
NON FIKSISEJARAH
4/7/20265 min read


Review Buku : Revolusi Iran
Informasi Dasar Buku
Judul : Revolusi Iran
Penulis : Nasir Tamara
Tahun Terbit : Desember 2017 (Cetakan Kedua)
Jumlah Halaman : 399 halaman
Genre/Topik : Geopolitik, Revolusi, Sejarah Politik, Biografi Tokoh
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Pembuka
“Revolusi Iran telah berhasil dilakukan dengan adanya persatuan rakyat yang timbul karena digunakannya elemen dan bahasa yang sama, yaitu agama di mana rakyat Iran amat mempercayainya,” kata Bani Shadr, Presiden Iran yang pertama, kepada penulis pada pertengahan bulan Desember 1979 di Tehran.
Revolusi Iran dimulai karena gagalnya modernisasi yang dipaksakan, tidak dapat diterimanya lagi pemerintahan yang diktator dari Shah, adanya “pemerkosaan” kebudayaan, adanya kesadaran tentang pentingnya hak-hak manusia untuk dihormati.
Ringkasan Isi
Proses industrialisasi di Iran dimulai pada tahun 1960-an. Jumlah pembiayaan sektor perlengkapan dan konsumsi yang diperoleh dari industri minyak sangat besar. Kelemahan manajemen dan adanya korupsi membuat harga barang-barang yang dihasilkan menjadi lebih mahal dari harga barang-barang impor.
Pada saat terakhir menjelang revolusi Iran, Iran tidak hanya dilanda korupsi tetapi juga inflasi yang besar. Inflasi di Iran dalam rentang Tahun 1975 sampai 1978 berkisar antara 100%-200%. Suhu politik naik karena pembangunan hanya menguntungkan bagi sebagian kecil rakyat Iran. Pemogokan oleh buruh pabrik, gelombang protes dari masyarakat miskin, demonstrasi yang memuncak pada akhir tahun 1977 menyebabkan banyaknya modal asing yang keluar dari Iran dan berakibat terbengkalainya proyek-proyek besar di Iran.
Faktor lain yang memicu jatuhnya rezim Shah Iran adalah masuknya kebudayaan barat secara langsung ke Iran. Di awal Tahun 1960-an tidak kurang dari 60.000 orang Amerika Serikat yang bekerja di negeri tersebut. Jumlah ini belum termasuk orang-orang asing dari negara-negara lain, seperti : Jepang, Korea, Filipina dan negara-negara Eropa. Kedatangan orang-orang asing ini menyebabkan benturan kebudayaan dengan masyarakat Iran yang selalu bangga dengan kebudayaan mereka yang tradisional dan besar.
Kedatangan orang-orang asing ini juga menyebabkan kebencian di kalangan masyarakat Iran karena banyak pekerjaan yang seharusnya dipegang orang Iran, malah dikuasai oleh orang asing. Misalnya dalam bidang-bidang industri minyak, pendidikan (di universitas), industri pesawat terbang, industri otomotif, pertanian, dll.
Pemberontakan dengan kekerasan untuk pertama kalinya terjadi di Iran pada tanggal 7, 8, dan 9 Januari 1977 di Kota Suci Qom, yang dipicu oleh penghinaan yang dilakukan oleh Menteri Penerangan Iran saat itu, Darius Homayoun, terhadap Ayatullah Khomeini. Melalui koran pemerintah, Ethela’at, Darius Homayoun menyatakan bahwa Khomeini adalah seorang homoseks dan dia dibayar oleh dinas rahasia Inggris untuk menentang Shah. Ketegangan yang terus meningkat ini akhirnya meledak menjadi kekerasan terbuka. Pemberontakan ini pada akhirnya menyebabkan 60 orang tewas. Dan memicu pemberontakan-pemberontakan yang lebih besar pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 6 Oktober 1978 atas desakan Shah Iran, Ayatullah Khomeini dipaksa meninggalkan Kota Najaf, Irak. Dan mulailah pengasingan ke Neauphle-le-Chateau, desa yang berjarak 40 km dari Paris, Ibukota Perancis. Pengasingan ini justru menjadi titik balik bagi Khomeini. Dari desa kecil di Perancis ini, nama Ayatullah Khomeini mulai dikenal dunia internasional dan gagasannya menyebar luas ke seluruh Iran.
Perusakan besar-besaran terjadi pada tanggal 5 November 1978, antara lain : pembakaran bioskop, tempat judi, steambath, kantor-kantor dan lain sebagainya, dilakukan oleh rakyat sebagai protes terhadap penembakan mahasiswa oleh tentara di Universitas Teheran pada tanggal 4 November 1978. Kejadian ini membuat Shah kemudian mengangkat Jenderal Gholam Azhari sebagai Perdana Menteri.
Pemerintahan Azhari menyerang surat kabar – surat kabar yang dianggap menghasut rakyat, Ethela’at dan Kayhan. Puluhan wartawan ditangkap oleh tentara dan berbagai alat percetakan dihancurkan. Kejadian ini memicu pemogokan masal di seluruh kementerian, bank-bank, dan kantor-kantor lainnya. Pemogokan yang belum pernah terjadi lagi dalam 25 tahun terakhir sejak jatuhnya Pemerintahan Dr. Moshadeg. Kekerasan militer terjadi hampir di seluruh kota-kota di Iran pada Desember 1978. Penculikan, pemerkosaan dan penembakan kepada orang-orang yang melakukan demonstrasi terjadi pada hari-hari di bulan Desember 1978 itu.
Setelah kejadian tersebut pemogokan juga terjadi pada buruh-buruh di industri minyak. Industri yang menjadi lambang negeri Iran, sehingga pemogokan ini kemudian menjadi perhatian internasional. Opini publik dunia terbangunkan dari ketidakacuhannya terhadap apa yang terjadi di Iran. Mereka mulai sadar bahwa apa yang terjadi saat ini dapat berakibat buruk pada rezim Shah. Akhirnya pada tanggal 31 Desember 1978 Jenderal Azhari mengundurkkemudian dan kemudian melarikan diri ke luar negeri.
Setelah pengunduran diri Azhari, Shah Iran mencari kandidat untuk menjabat sebagai Perdana Menteri. Tetapi tak seorang pun mau menempati jabatan tersebut, kecuali Syapur Bahktiar, mantan tokoh Front Nasional yang mendapatkan dukungan Amerika Serikat. Syapur Bakhtiar mulai menjabat pada tanggal 6 Januari 1979. Ia melakukan berbagai hal spektakuler, antara lain : mencabut sensor pers, pembubaran polisi rahasia SAVAK, dan berhasil meyakinkan Shah Iran untuk pergi keluar negeri dengan alasan kesehatan seandainya ingin krisis politik berakhir. Shah Iran akhirnya berangkat ke AS pada tanggal 16 Januari 1979. Kepergiannya ini menandai berakhirnya monarki selama 37 tahun dan merupakan titik puncak dari Revolusi Iran 1979.
Ayatullah Khomeini akhirnya kembali ke tanah airnya, Iran, pada tanggal 1 Februari 1979. Sejak tibanya Khomeini suasana Iran makin panas. Keamanan di Teheran makin hari makin mengkhawatirkan. Akhirnya pada tanggal 3 Februari 1979 Ayatullah Khomeini di depan wartawan lokal dan internasional mengumumkan dibentuknya Dewan Revolusi. Dengan terbentuknya dewan revolusi ini kekuasaan monarki secara de facto telah runtuh dan Iran memasuki babak baru sebagai negara dengan sistem politik yang sepenuhnya berbeda.
Hal Menarik dari Buku
Buku ini menceritakan bagaimana Khomeini bisa memimpin revolusi Iran dan menyatukan seluruh oposisi yang sebelumnya terpecah belah, yaitu : kaum agama, Front Nasional, Partai Tudeh (komunis, ekstrem kiri), Fedayen (Marxis – Leninis, radikal) dan Mojaheddin Khalq (Sosialis – Syiah, Islam Kiri), menemukan persatuan mereka sehingga mampu meruntuhkan monariki Shah yang telah berumur 2.500 tahun.
Bagaimana kemudian revolusi Iran membentuk sebuah Negara Islam yang didesain untuk menahan negara tersebut dari infiltrasi asing.
Buku ini juga memuat wawancara antara penulis dengan Ayatullah Khomeini dan juga dengan Bani Shadr setelah menjadi Presiden.
Catatan :
Beberapa kalimat tidak ditulis dengan menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cara memotong suku kata saat berganti baris juga kurang tepat. Hal ini menurut saya perlu diperbaiki apabila buku ini dicetak kembali.
Penyajian data dalam bentuk angka-angka baiknya disajikan dalam tabel, bukan dalam narasi kalimat, sehingga pembaca lebih mudah mencerna dan memahami.
Terdapat kesalahan penulisan tanggal saat Syapur Bakhtiar mulai memangku jabatan sebagai Perdana Menteri. Harusnya tertanggal 6 Januari 1979, namun tertulis 6 Januari 1978. Menurut saya kesalahan ini fatal.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini
Buku ini cocok untuk :
- Pembaca yang mencari referensi tentang revolusi Iran tahun 1979.
- Pembaca yang mencari biografi tentang Ayatullah Khomeini.
Kurang cocok untuk :
- Pembaca yang ingin mencari bacaan yang ringan dan cepat.
- Pembaca yang tidak suka tentang buku yang membahas tentang geopolitik.
Refleksi Pribadi :
Membaca buku ini mengingatkan saya akan situasi menjelang runtuhnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998. Dalam beberapa hal, kondisi Iran yang digambarkan dalam buku ini terasa memiliki kemiripan dengan Indonesia pada akhir pemerintahan Orde Baru, terutama terkait dengan korupsi di lingkaran kekuasaan serta cara rezim menghadapi kritik publik. Rezim Mohammad Reza Pahlavi menggunakan aparat keamanan seperti SAVAK untuk menekan oposisi, sesuatu yang mengingatkan saya pada praktik intimidasi dan represi yang juga sering dikaitkan dengan pemerintahan Suharto pada masa Orde Baru.
Tentu saja konteks kedua negara berbeda, tetapi membaca kisah revolusi Iran membuat saya melihat bagaimana kemarahan publik terhadap korupsi dan pembungkaman kritik dapat perlahan menggerus legitimasi sebuah rezim.
Kondisi tersebut juga membuat saya bertanya-tanya tentang kondisi Indonesia di masa kini. Sejarah menunjukkan bahwa ketika korupsi merajalela dan kritik publik diabaikan atau bahkan dibungkam, legitimasi sebuah rezim perlahan dapat terkikis. Pengalaman Iran pada akhir 1970-an dan sejarah Indonesia pada tahun 1990-an mengingatkan bahwa kemarahan publik sering kali tumbuh secara perlahan sebelum akhirnya meledak pada satu titik tertentu. Apakah kondisi ini relevan dengan keadaan Indonesia saat ini? Apakah sejarah itu akan kembali terulang? Waktu yang akan menjawabnya.
Rating :
8/10
Kontak
Hubungi kami untuk pertanyaan buku
Alamat
Sosial
admin@logikamasalalu.com
© 2025. All rights reserved.
