Resensi Novel : Ronggeng Dukuh Paruk
Review Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ulasan reflektif tentang seni ronggeng, konflik batin, dan tragedi politik 1965. Bagaimana seni, kepolosan, dan manusia biasa dikorbankan ketika politik kehilangan nurani.
NOVEL FIKSISEJARAH
2/8/20264 min read


Review Buku : Ronggeng Dukuh Paruk
Informasi Dasar Buku
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Tahun Terbit : 2025
Jumlah Halaman : 520
Genre/Topik : Seni ronggeng, konflik politik 1965, tragedi 1965
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pembuka
Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki Secamanggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh Paruk.
Ronggeng bagi masyarakat Dukuh Paruk merupakan identitas kultural, sebuah tradisi yang telah turun temurun. Kehadiran ronggeng yang telah lama dinanti, membuat kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah. Namun, konflik batin Srintil sebagai individu serta dampak peristiwa politik 1965, mengubah kegembiraan itu menjadi tragedi.
Masyarakat Dukuh Paruk yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh simpatisan PKI kemudian justru menjadi korban struktural dari kekerasan politik. Kisah tentang bagaimana seni rakyat, kepolosan desa, dan nasib seorang perempuan bernama Srintil yang terseret dalam pusaran sejarah inilah yang diangkat oleh Ahmad Tohari dalam novelnya kali ini.
Ringkasan Isi
Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang ronggeng bernama Srintil di sebuah desa kecil yang miskin dan tertinggal, Dukuh Paruk. Dukuh Paruk dinarasikan sebagai sebuah desa terpencil, miskin dan terisolasi, tempat tradisi lebih menentukan hidup warganya daripada pendidikan atau kesadaran politik. Masyarakat Dukuh Paruk sangat memegang teguh budaya termasuk kepercayaan bahwa bakat seorang ronggeng itu sebuah “titisan”.
Setelah menunggu sekian lama akan hadirnya seorang ronggeng di Dukuh Paruk, akhirnya muncullah Srintil, seorang anak perempuan yang dipercaya memiliki “indang ronggeng” yang dipercaya masyarakat Dukuh Paruk akan menjadi ronggeng terkenal dan sukses. Hadirnya Srintil sebagai ronggeng membuat kehidupan masyarakat Dukuh Paruk menjadi bergairah kembali.
Untuk dinobatkan menjadi seorang ronggeng di Dukuh Paruk, Srintil harus menjalani serangkaian tradisi yang ketat. Salah satunya tradisi bukak klambu. Bukak klambu adalah semacam sayembara untuk mendapatkan keperawanan seorang ronggeng dengan menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, terbuka bagi laki-laki mana pun. Penulis seakan sengaja membuat perasaan tidak nyaman kepada pembaca di awal cerita dengan peristiwa bukak klambu ini, apalagi Srintil saat itu masih berusia 14-15 tahun.
Cerita dalam novel ini juga dibumbui dengan pergulatan batin seorang tokoh bernama Rasus. Laki-laki yang merupakan teman masa kecil Srintil yang menaruh hati kepada Srintil. Adanya tradisi bukak klambu membuat Rasus putus asa. Sebagai salah satu orang yang “menginginkan” Srintil saat itu, Rasus tidak bisa berbuat apa-apa karena syarat yang diberikan dukun ronggeng (Kartareja) yang jauh dari kemampuan Rasus. Karena hal inilah akhirnya Rasus memilih menjauh dari Srintil, menjauh dari Dukuh Paruk dan jalan hidup kemudian membuatnya menjadi seorang aparat militer.
Situasi politik pada saat itu, ditambah kepopuleran kesenian ronggeng Dukuh Paruk membuat desa ini dimanfaatkan sebagai alat pengumpul massa oleh pihak-pihak yang berkepentingan secara politik. Karena pendidikan yang rendah Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk tidak sadar telah menjadi alat propaganda. Kekacauan politik pada tahun-tahun itu pun menyeret Srintil dan orang-orang yang terlibat kesenian ronggeng menjadi korban. Pun juga masyarakat Dukuh Paruk tak luput menjadi sasaran.
Pengalaman buruk Srintil selama dipenjara dan perlakuan aparat setelah Srintil keluar penjara kemudian membuat Srintil trauma dan memutuskan berhenti menjadi seorang ronggeng. Harapannya untuk menjadi istri Rasus juga bertepuk sebelah tangan. Pilihan Rasus menjadi aparat militer membuat konflik batin dalam diri Rasus, di satu sisi Rasus ingin memiliki Srintil, di sisi lain Rasus tidak ingin pilihannya kepada Srintil membuat dia kehilangan status sebagai seorang aparat militer.
Masifnya pembangunan di masa setelah tahun-tahun 1965 membuat Srintil kemudian dipertemukan dengan Bajus, seorang tokoh yang berasal dari kota. Kebaikan dan perhatian Bajus membuat Srintil berharap kelak menjadi suaminya. Namun, akhirnya Bajus pulalah yang membuat Srintil begitu terpukul dan putus asa.
Hal Menarik dari Buku
Cara penulis dalam menceritakan kehidupan Srintil dalam novel ini mengalir dan berjalan dengan tempo sedang dan konsisten. Alur ceritanya dibangun secara bertahap, namun beberapa peristiwa kunci muncul secara tidak terduga sehingga mampu mengagetkan pembaca. Plot-plotnya relatif sulit ditebak dan bagian akhir cerita menghadirkan twist yang kuat serta meninggalkan kesan emosional yang kuat.
Catatan :
Bagi saya, terdapat satu bagian yang terasa janggal, yaitu ketika Rasus tiba-tiba direkrut menjadi tentara. Pertanyaan yang muncul : apakah pada masa itu (sekitar tahun 1965) proses menjadi tentara memang semudah itu, bahkan bagi seseorang yang tidak memiliki pendidikan formal yang memadai?. Walaupun Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya fiksi, novel ini sangat kental dengan realisme sosial dan latar sejarah, terutama sejarah yang berkaitan dengan peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965. Karena itu, transisi Rasus menjadi tentara digambarkan terlalu cepat dan minim elaborasi, sehingga sedikit mengganggu koherensi logika historis cerita.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini
Buku ini cocok untuk :
- Pembaca yang menginginkan novel dengan latar belakang sejarah, terutama terkait peristiwa politik di tahun 1965.
- Pembaca dewasa (21 tahun), karena cerita dalam novel beberapa cukup vulgar.
Kurang Cocok untuk :
- Pembaca yang tidak suka novel berlatar sejarah, apalagi sejarah tahun 1965.
- Pembaca yang menginginkan cerita yang berakhir bahagia.
Refleksi Pribadi :
Kisah Srintil (dan masyarakat Dukuh Paruk) sebagai seniman ronggeng yang kemudian menjadi korban konflik politik setelah dikaitkan dengan kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada saat itu, mengingatkan saya akan berbagai cerita yang saya baca dari sumber yang lain (bukan dari novel ini) tentang para pelaku seni yang mengalami penindasan sosial dan politik karena dicurigai memiliki hubungan dengan PKI melalui lembaga keseniannya yang dikenal dengan “Lekra”, padahal tidak pernah menjadi simpatisan. Menurut saya, kondisi seperti ini kemungkinan besar dialami oleh banyak orang pada masa itu.
Membaca “Ronggeng Dukuh Paruk” bukan hanya soal mengikuti nasib Srintil, tetapi juga mengajak pembaca menyadari betapa mudahnya seni, kepolosan, dan manusia biasa dikorbankan ketika politik kehilangan nurani. Bukankah hal ini masih relevan sampai saat ini?
Rating :
9/10
Kontak
Hubungi kami untuk pertanyaan buku
Alamat
Sosial
admin@logikamasalalu.com
© 2025. All rights reserved.
