Resensi Novel : Dari Dalam Kubur

Trauma 1965, Identitas Tionghoa, dan Rahasia Keluarga

NOVEL FIKSISEJARAH

5/3/20263 min read

Resensi Novel : Dari Dalam Kubur

Informasi Dasar Buku

Judul : Dari Dalam Kubur

Penulis : Soe Tjen Marching

Tahun Terbit : November 2025 (Cetakan Kelima)

Jumlah Halaman : 509 Halaman

Genre/Topik : Sejarah Politik, Thriller

Penerbit : Marjin Kiri

Pembuka

Menjadi “Cina” pastilah sangat menjengkelkan bagi Karton. Di sekolah, kami diajar untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Namun, jangankan setinggi langit, mau menggantungkannya di secuil bagian bumi saja, ia tidak bisa. Sewaktu ia mengutarakan angannya untuk jadi Presiden, dengan datar Mama menjawab :”Tenglang ndak isa jadi Presiden.”

Kalimat sederhana itu langsung menunjukkan batas tak kasat mata yang dialami keturunan Tionghoa di Indonesia. Novel ini mengambil kisah keluarga Tionghoa yang hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan diskriminasi pasca kekacauan politik 1965. Novel ini juga menyoroti bagaimana Lydia harus menyembunyikan masa lalu dan jati dirinya bahkan dari anak perempuannya sendiri, Karla. Kisah tersebut kemudian terungkap melalui buku harian yang baru ditemukan setelah Lydia meninggal. Karena itulah, saya menduga penulis memilih judul “Dari Dalam Kubur” seolah Lydia menceritakan masa lalunya dari balik kematian.

Ringkasan Isi

Karakter utama dalam novel ini adalah Karla, seorang perempuan yang lahir di tengah-tengah keluarga keturunan Tionghoa. Karla terus mempertanyakan identitas dirinya karena ibunya, Lydia, memperlakukannya secara berbeda dibandingkan teman-temannya bahkan dibandingkan kakaknya sendiri, Katon. Pada awal cerita, pembaca banyak disuguhkan bagaimana kehidupan Karla dalam keluarga, lingkungan sekitar dan di sekolahnya. Oleh karena itu, alur cerita di awal terkesan lambat.

Pembaca semakin dibuat bertanya-tanya karena identitas masa lalu ibu Karla, Lydia, yang dirahasiakan hingga akhir hayatnya. Kisah perjalanan hidup Lydia dan keluarganya baru terungkap melalui buku harian yang ditemukan setelah kepergiannya.

Novel ini menggabungkan antara sejarah kekacauan pasca 1965, diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa dan hubungan yang kompleks antara ibu-anak akibat adanya trauma masa lalu. Novel ini diceritakan dengan nuansa yang gelap, penuh rahasia dan emosional yang mengajak pembaca secara perlahan menyusun puzzle masa lalu yang disembunyikan oleh keluarga Karla terutama ibunya. Mampukah Karla mengatasi warisan trauma ibunya itu? Hal ini akan terjawab pada akhir cerita.

Hal Menarik dari Buku

Cerita ini menjadi menarik karena penggunaan buku harian Lydia sebagai medium untuk membuka lapis demi lapis trauma keluarga. Cara ini membuat pembaca seperti ikut membongkar rahasia yang telah lama terkubur.

Trauma Lydia sebagai orang tua yang secara tidak sadar diwariskan ke anak-anaknya termasuk Karla, menjadi salah satu elemen yang membuat novel ini terasa kuat secara emosional. Pada awal cerita, pembaca diajak mempertanyakan identitas Karla dan asal-usul keluarganya, yang kemudian justru baru terjawab melalui buku harian yang Lydia tulis.

Novel ini juga mengajak pembaca untuk memahami bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa dipaksa menyembunyikan identitas aslinya. Suatu hal yang sudah jauh berkurang setelah masa reformasi ini.

Catatan :

Ada bagian cerita yang menurut saya terasa dipaksakan dan terasa terlalu didramatisasi. Walaupun tidak dapat saya sebutkan dalam resensi ini karena akan memberikan spoiler cukup besar, terutama pada bagian akhir cerita. Entah karena memang cerita sebenarnya seperti itu atau sengaja ditambahkan oleh penulis.

Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini

Buku ini cocok untuk :

  • Pembaca yang mencari novel yang mengangkat realitas sejarah tentang korban kekerasan dan diskriminasi pasca 1965.

  • Pembaca yang menyukai novel keluarga dengan tema traumatis lintas generasi.

Kurang Cocok :

  • Pembaca yang mencari bacaan yang habis dalam sekali baca. Cerita dalam novel ini memang mengalir dan membuat pembaca ingin terus membacanya. Selain karena jumlah halamannya cukup tebal, tempo cerita di bagian awal juga berjalan relatif lambat.

Refleksi Pribadi :

Mungkin bukan hanya Lydia (Djing Fei) saja yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan akibat kekacauan politik pada tahun 1965 karena diskriminasi ras. Sebagai minoritas yang tinggal di Indonesia seringkali warga Tionghoa mendapatkan diskriminasi bahkan hingga saat ini. Warisan prasangka dan stereotip antarkelompok sering kali membuat relasi sosial antar warga menjadi berjarak. Hal ini menurut saya perlu mendapat perhatian bersama agar ruang sosial yang lebih inklusif dapat terus dibangun. Jika prasangka semacam ini terus dipelihara, bukan tidak mungkin ia tetap menjadi sumber ketegangan sosial di masa depan.

Semboyan bangsa kita “Bhinneka Tunggal Ika” selama ini menurut saya masih hanya terjadi di sekolah dan forum-forum resmi. Namun, pada kenyataannya kita masih belum sepenuhnya menerima perbedaan itu. Ragam perbedaan yang Indonesia punyai harusnya menjadi kekuatan kita untuk terus berkembang menjadi sebuah bangsa. Bukan seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membesar. Mari memadamkan api itu dengan mengurangi rasa saling curiga dan mulai menemukan lebih banyak persamaan daripada perbedaan.

Rating :

8/10

Saya memberikan rating 8/10 karena novel ini memadukan tema sejarah, trauma keluarga, dan misteri identitas dengan cukup kuat, meskipun tempo awal cerita terasa lambat dan ada beberapa bagian yang terasa terlalu dramatis.