Resensi Buku: The Hundred Years War on Palestine
Sejarah Perlawanan dan Koloniliasme Pemukim (1917-2017)
NON FIKSISEJARAHGEOPOLITIK
5/10/20264 min read


Resensi Buku: The Hundred Years War on Palestine
Informasi Dasar Buku
Judul : The Hundred Years War on Palestine
Penulis : Rashid Khalidi
Tahun Terbit : 2025
Jumlah Halaman : 394
Genre/Topik : Sejarah Palestina, Konflik Palestina-Israel, Geopolitik
Penerbit : Elex Media Komputindo
Pembuka
“Kita adalah bangsa yang terancam lenyap”
- “Isa dan Yusuf al’Isa, Filastin, 7 Mei 1914
Jauh sebelum konflik Palestina-Israel menjadi isu global seperti hari ini, Yusuf al-‘Isa telah memperingatkan publik Arab Palestina mengenai implikasi proyek Zionis. Melalui surat kabar Filastin yang didirikannya di Kota Jaffa (sekarang bagian dari Tel Aviv), dia secara konsisten menulis tentang dampak migrasi Yahudi dan pembelian tanah Yahudi di Palestina sejak akhir Dinasti Ottoman hingga awal mandat Inggris.
Melalui bukunya ini Rashid Khalidi berargumen bahwa apa yang dialami oleh bangsa Palestina selama satu abad terakhir (1917-2017) bukan sekadar konflik dua negara, namun merupakan proyek kolonialisme yang didukung oleh negara-negara besar, seperti Inggris dan AS.
Ringkasan Isi
Seperti halnya kekhawatiran yang dirasakan Yusuf al-‘Isa pada abad ke-20, sebelum masa itu Yusuf Diya al-Din Pasha al-Khalidi yang pernah dipilih sebagai walikota dan wakil Yerusalem di parlemen Ottoman serta merupakan paman buyut dari penulis buku ini, Rashid Khalidi, pernah menulis surat kepada Theodor Herzl. Yusuf Diya memperingatkan Herzl tentang bahaya yang dia perkirakan akan muncul sebagai akibat dari implementasi proyek Zionis, yaitu: mendirikan negara Yahudi berdaulat di Palestina. Gagasan Zionis itu, katanya, akan menimbulkan perpecahan di antara umat Kristen, Muslim, dan Yahudi di sana.
Kekalahan dinasti Ottoman pada perang dunia I membuat kendali Ottoman terhadap Palestina setelah empat abad lamanya hilang. Akhirnya rakyat Palestina dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka kini berada di bawah kekuasaan asing. Dengan latar penderitaan, kehilangan, dan kekurangan, rakyat Palestina dibuat sadar akan keberadaan Deklarasi Balfour. Sebuah pernyataan bersejarah yang dikeluarkan pada tanggal 2 November 1917 oleh menteri luar negeri Inggris, Arthur James Balfour, atas nama kabinet Inggris yang hanya terdiri dari satu kalimat:
“Pemerintah Sri Baginda memandang dengan penuh dukungan terhadap pendirian sebuah rumah nasional untuk bangsa Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan upaya terbaik untuk memfasilitasi pencapaian tujuan ini, dengan pemahaman yang jelas bahwa tidak boleh ada tindakan yang dapat merugikan hak-hak sipil dan keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak serta status politik yang dinikmati oleh orang-orang Yahudi di negara lain.”
Keputusan Inggris untuk menerbitkan Deklarasi Balfour ini memberikan legitimasi secara politik bagi bangsa Yahudi Eropa untuk memiliki “national home” sehingga mendorong mereka untuk melakukan migrasi ke Palestina secara bertahap.
Adanya Mandate for Palestine (Mandat untuk Palestina) yang dikeluarkan oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1922 secara resmi memberikan wewenang kepada Inggris untuk memerintah wilayah Palestina. Mandat ini memberikan “hadiah” yang luar biasa bagi gerakan Zionis karena mandat itu tidak hanya menyertakan teks Deklarasi Balfour secara verbatim, tetapi juga memperluas komitmen yang terkandung di dalamnya. Tujuh dari dua puluh delapan pasal Mandat didedikasikan untuk memberikan hak istimewa dan fasilitas kepada gerakan Zionis untuk melaksanakan kebijakan rumah nasional bagi bangsa Yahudi.
Pada tanggal 20 November 1947, Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi 181 yang menyerukan pembagian Palestina menjadi sebuah negara Yahudi yang luas dan negara Arab yang lebih kecil, dengan corpus separatum internasional yang mencakup Yerusalem. Resolusi tersebut menurut Rashid Khalidi dapat dipandang sebagai deklarasi perang karena memberikan “akta kelahiran internasional” bagi negara Yahudi di sebagian besar wilayah yang penduduknya mayoritas Arab. Hal ini oleh Khalidi dianggap sebagai pelanggaran terhadap prinsip penentuan nasib sendiri yang dijamin dalam Piagam PBB. Pengusiran warga Arab dalam jumlah cukup besar agar tercipta negara dengan mayoritas Yahudi pun menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan.
Nakba berlangsung selama berbulan-bulan. Tahap pertamanya, dari tanggal 30 November 1947 hingga penarikan terakhir pasukan Inggris dan berdirinya Israel pada tanggal 15 Mei 1948. Tahap awal ini ditandai oleh pertempuran sengit yang berpuncak pada ofensif besar-besaran di seluruh negeri oleh kaum Zionis pada musim semi 1948 yang disebut Dalet Plan (Rencana Dalet). Rencana ini mencakup penaklukan dan pengosongan dua pusat perkotaan Arab terbesar, yaitu: Jaffa dan Haifa pada bulan April dan pertengahan Mei, serta kawasan Arab di Yerusalem Barat, juga puluhan kota kecil dan desa lainnya, termasuk Tiberias, Safad, dan Beisan.
Kekalahan negara-negara Arab dalam Six-Day War pada 1967 menjadi titik balik penting dalam konflik ini. Israel berhasil menduduki Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur, Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Bagi Khalidi, perang ini menandai fase baru kolonialisme Israel melalui pendudukan militer dan perluasan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki.
Khalidi juga cukup kritis terhadap proses perdamaian seperti Oslo Accords, yang menurutnya gagal memberikan kedaulatan nyata bagi Palestina. Di bagian akhir buku, ia menunjukkan bagaimana kebijakan pemerintahan Donald Trump, terutama pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, semakin menegaskan keberpihakan AS terhadap Israel.
Hal Menarik dari Buku:
Selain merupakan sejarawan dan intelektual Palestina, Rashid Khalidi juga berasal dari keluarga yang memiliki keterlibatan panjang dalam konflik ini. Salah satunya adalah Yusuf Diya al-Din Pasha al-Khalidi, paman buyut dari Rashid Khalidi, yang pernah menjabat sebagai wali kota Yerusalem dan pernah menulis surat kepada Theodor Herzl tentang gagasan Herzl terkait proyek Zionis. Selain itu, penulis mengalami langsung beberapa peristiwa akibat konflik ini sehingga narasi dalam buku ini terasa personal.
Buku ini juga membingkai konflik Palestina-Israel bukan semata merupakan konflik agama, tetapi merupakan proyek kolonialisme, nasionalisme, dan konflik geopolitik negara-negara besar. Narasi sejarah disusun dalam enam fase konflik sehingga memudahkan pembaca memahami gagasan yang disampaikan Khalidi.
Catatan:
Rashid Khalidi secara sadar memang melihat konflik ini dari perspektif Palestina dan tidak banyak mengeksplorasi perspektif Israel. Oleh sebab itu, pembaca yang ingin memahami konflik ini secara lebih komprehensif masih perlu melengkapi bacaan dengan literatur lain dari perspektif Israel maupun penulis non-Palestina.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini
Buku ini cocok untuk:
1) Pembaca yang mencari literatur tentang konflik Palestina-Israel melalui sudut pandang sejarawan dan intelektual Palestina. Buku ini memiliki nilai tambah karena ditulis oleh penulis yang mengalami langsung sebagian dinamika konflik tersebut.
2) Pembaca yang ingin melihat konflik Palestina-Israel sebagai sebuah proyek kolonialisme Zionis terhadap bangsa Palestina.
Kurang Cocok untuk:
1) Pembaca yang mencari literatur tentang konflik Palestina-Israel dari multi-perspektif. Buku ini jelas berpihak ke Palestina, karena penulisnya merupakan sejarawan dan intelektual Palestina.
2) Pembaca yang tidak suka literatur yang membahas tentang konflik geopolitik. Apalagi konflik Palestina-Israel ini cukup rumit.
Refleksi Pribadi:
Buku ini banyak memberikan pengetahuan dan pemahaman baru buat saya tentang konflik Palestina-Israel dilihat dari sudut pandang sejarawan dan intelektual Palestina. Beberapa kali saya harus mengambil jeda ketika membaca bagian yang membahas tentang kekerasan yang dialami para pengungsi Palestina maupun tentang pengusiran rakyat Palestina dari kota-kota yang telah dihuni mereka berabad-abad. Saya juga merasa frustasi ketika mengetahui bahwa dukungan negara-negara Arab (rezim) terhadap Palestina sering dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik dan agenda domestik walaupun secara umum memang masyarakat Arab memberikan dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Palestina.
Setelah buku ini saya jadi menyadari konflik ini memang jauh lebih kompleks dari yang saya bayangkan. Konflik Palestina bukan hanya sekadar sengketa wilayah ataupun konflik agama, namun persoalan panjang yang melibatkan kolonialisme, nasionalisme serta kepentingan geopolitik global.
Rating: 9/10
Saya memberikan nilai 9 karena buku ini sangat kuat menjelaskan kompleksitas konflik ini terutama terkait proyek kolonialisme Zionis dan dukungan kekuatan besar seperti Inggris dan AS. Namun, pembaca yang ingin melihat konflik ini secara lebih komprehensif tetap memerlukan literatur lain.
Kontak
Hubungi kami untuk pertanyaan buku
Alamat
Sosial
admin@logikamasalalu.com
© 2025. All rights reserved.
