Resensi Buku : Pak Harto Untold Stories
Kumpulan cerita dari orang-orang terdekat Pak Harto
NON FIKSI
1/4/20264 min read


Review Buku : Pak Harto The Untold Stories
Informasi Dasar Buku
Judul : Pak Harto The Untold Stories
Penulis : Mahpudi, Bakarudin, Dwitri Waluyo, Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : 636 Halaman
Genre/Topik : Sejarah, Biografi, Orde Baru, Soeharto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pembuka
Saya melihat Ibu Tien memperhatikan saya dari bawah sampai ke atas. Langsung rontok mental saya. Hati saya berkata, wah jangan-jangan lamaran saya ditolak, apalagi kemudian Ibu Tien yang tampak geli melihat saya salah tingkah di depan keluarga besar kekasih hati, menyapa dengan lembut, “Wong lanang kok ingah-ingih (lelaki kok tersipu-sipu).”
Saya melihat kepada Pak Harto, namun Beliau hanya tersenyum. Saya pun kemudian menunduk, tidak bisa berkata-kata. “Aku mbiyen yo ingah-ingih (saya dulu juga tersipu-sipu),” tiba-tiba Pak Harto berkata sambil tersenyum. Rupanya Beliau teringat pada waktu meminang Ibu Tien di masa lalu.
Kenang Wismoyo Arismunandar, dalam salah satu cerita dalam buku ini.
Detail-detail kecil seperti ini yang mungkin belum pernah diceritakan di buku lain akan banyak pembaca dapatkan dalam buku ini. Diceritakan dari sudut pandang orang-orang dekat, bahkan beberapa merupakan testimoni dari mantan pemimpin negara sahabat, bercerita tentang bagaimana Pak Harto bertindak dan kebiasaan-kebiasaan kecil Pak Harto yang mungkin belum pernah diungkap sebelumnya.
Buku ini bisa jadi nostalgia bagaimana “manisnya” kehidupan pada masa Pak Harto, namun karena diceritakan dari orang-orang yang terdekat dengan Pak Harto buku ini juga bisa dianggap sebagai buku apologia (memoar pembelaan diri) atas segala kontroversi tindakan Pak Harto selama periode kepemimpinannya di masa Orde Baru.
Ringkasan Isi
Buku ini berisi berisi kumpulan kisah dan testimoni dari orang-orang yang pernah berada di sekitar Pak Harto, baik selama masa kepemimpinannya maupun setelah ia tidak lagi menjabat sebagi Presiden. Cerita-cerita tersebut disajikan dalam bentuk narasi pendek yang berdiri sendiri dengan fokus pada pengalaman personal, interaksi sehari-hari, serta kebiasaan-kebiasaan Pak Harto dalam situasi formal maupun informal.
Cerita dalam buku ini terdiri dari beragam tema, mulai dari hubungan Pak Harto dengan keluarga, staf, dan pejabat negara, hingga pandangannya terhadap kepemimpinan, kedisiplinan, dan kesederhanaan hidupnya. Beberapa penulis juga mengangkat peristiwa-peristiwa kecil di balik layar kekuasaan termasuk cara Pak Harto dalam mengambil keputusan, bersikap terhadap kritik serta perlakuan Pak Harto terhadap orang-orang di sekelilingnya. Yang semuanya itu mungkin belum pernah diceritakan sebelumnya.
Buku ini juga dilengkapi dokumentasi foto dari berbagai periode kehidupan Pak Harto yang sebagian besar berasal dari arsip pribadi para narasumber yang ceritanya dimuat dalam buku ini.
Hal Menarik dari Buku
Ada beberapa kebiasaan Pak Harto untuk menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan dengan orang-orang di sekelilingnya. Hal ini nampak dalam beberapa cerita di buku ini.
Beberapa cerita akhirnya menjawab mitos tentang Pak Harto. Contohnya : ada isu adanya marinir di bawah kapal yang menyediakan ikan jika Pak Harto sedang memancing. Dalam salah cerita yang disampaikan Harmoko akhirnya terjawab melalui potongan cerita berikut :
Ketika sedang berkembang rumor soal hobi Pak Harto yang satu ini, memancing. Naluri jurnalis saya muncul dan spontan saya bertanya pada beliau, “Pak ini ada cerita yang berkembang di masyarakat. Katanya jika Bapak memancing, di bawah ada marinir yang menyediakan ikan untuk dipasangi umpan pancing”.
“Lihat saja nanti,” kata Pak Harto.
Kami pun memancing. Ternyata rumor itu tidak benar. Pak Harto sering mendapat ikan karena beliau sabar dan memang pandai memancing.
Cerita-cerita yang membahas tentang mitos seperti ini akan banyak ditemukan dalam buku ini. Cerita-cerita semacam ini memang berfungsi membongkar mitos sekaligus membangun citra personal yang positif.
Catatan :
Buku ini berisi cerita-cerita pendek dari orang-orang terdekat Pak Harto, karena itu, tempo buku ini terasa datar dan mungkin akan membosankan untuk beberapa orang. Saya sendiri juga butuh cukup usaha untuk menyelesaikannya. Bukan karena cukup banyak halamannya (636 halaman), namun karena alurnya yang datar-datar saja.
Semua cerita memang terkesan menunjukan sisi positif dari Pak Harto, sehingga tidak ditemukan sisi negatif Pak Harto dari seluruh cerita yang disajikan. Pak Harto dalam buku digambarkan sebagai pemimpin tanpa cela. Kalau pun ada kesalahan seakan semua dilakukan untuk rakyat banyak.
Seluruh cerita dalam buku ini diambil dari orang-orang yang bisa disebut pro-Orde Baru, sehingga jika dikaitkan dengan konteks sejarah akan terasa bias.
Buku ini kuat secara dokumentasi, namun lemah secara keberimbangan sejarah.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini
Buku ini cocok untuk :
Pembaca yang mencari informasi/cerita tentang Pak Harto dari sudut pandang lingkaran dalam selama Pak Harto menjabat dan di akhir-akhir masa jabatannya.
Pembaca yang ingin tau tentang kebiasaan Pak Harto, Seperti yang saya sampaikan di awal resensi ini, ada banyak detail-detail kecil tentang Pak Harto yang mungkin belum pernah diceritakan sebelumnya yang ada dalam buku ini.
Pembaca yang mencari beberapa dokumentasi tentang Pak Harto sebelum, saat dan setelah menjabat sebagai Presiden. Foto-foto ini mungkin beberapa belum pernah dipublikasikan karena didapatkan dari tokoh-tokoh di sekelilingnya Pak Harto yang bercerita dalam buku ini.
Kurang Cocok untuk :
Pembaca yang mencari tentang kontroversi-kontroversi yang dilakukan selama periode kepimpinan Pak Harto semasa Orde Baru.
Pembaca yang mencari informasi detail tentang tragedi-tragedi besar sebelum dan selama Pak Harto menjabat sebagai Presiden Indonesia, seperti : peristiwa 30 September 1965, peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, dan sebagianya.
Pembaca yang anti rezim Orde Baru (terutama anti Soeharto) garis keras. Karena seperti yang sampaikan di awal resensi, buku ini lebih merupakan apologia.
Refleksi Pribadi :
Lahir dan besar di masa Orde Baru saya merasakan bagaimana kehidupan di masa-masa tsb.Dari penuturan para saksi dekat yang diceritakan dalam buku ini, saya menjadi memiliki pandangan lain tentang Pak Harto dan semua tindakan yang pernah dilakukan nya. Sepanjang pengetahuan saya dari literatur yang saya baca selama ini, kondisi di awal Indonesia merdeka memang sungguh pelik. Krisis ideologi, sosial, politik dan ekonomi membuat Pak Harto mungkin mengambil tindakan yang represif untuk membuat Indonesia memiliki asas tunggal Pancasila. Tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar karena seharusnya korban peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum dan selama masa Orde Baru bisa dihindari. Misalnya dalam konteks peristiwa 1965. Seharusnya korban dari masyarakat sipil baik secara fisik maupun politik bisa dihindari, terutama masyarakat yang tidak terlibat langsung peristiwa ini.
Hal yang membuat saya salut dengan kepemimpinan Pak Harto selama masa Orde Baru adalah penempatan right man, in the right place. Dari buku ini saya bisa menarik kesimpulan, betapa posisi-posisi tertentu dipikirkan baik oleh Pak Harto untuk ditempati orang yang tepat. Sangat berbeda dengan kondisi politik saat ini. Dimana orang-orang yang menjabat di posisi-posisi kementerian, BUMN dan pemerintahan terkesan hanya bagi-bagi kursi.
Hal yang juga sangat disayangkan, tidak adanya lagi GBHN (Garis Besar Haluan Negara) dan PELITA (Pembangunan Lima Tahun) yang sebelumnya ada di masa Orde Baru. Kondisi yang membuat pembangunan di Indonesia tidak memiliki blue print yang jelas. Apalagi setelah berganti kekuasaan. Dan di buku ini, beberapa orang terdekat Pak Harto juga menyayangkannya. Walaupun dalam masa Orde baru memang nuansa sentralitas kekuasaan memang sangat kuat.
Terakhir, buku ini seakan berusaha menghapus semua kesalahan yang dilakukan Pak Harto semasa berkuasa. Citra positif dan “sempurna” coba ditampilkan penulis melalui citra cerita dalam buku ini. Oleh karena itu, untuk memiliki gambaran utuh tentang bagaimana Orde Baru berjalan perlu membaca buku lain yang melihat dari sisi yang berbeda, misalnya literatur khusus yang membahas korban dan peristiwa 1965, Malari atau Tanjung Priok, yang dalam buku sama sekali tidak dibahas.
Rating :
6.5/10
Kontak
Hubungi kami untuk pertanyaan buku
Alamat
Sosial
admin@logikamasalalu.com
© 2025. All rights reserved.
